Gagalku, Belajarku….



Melesat tinggi
Terbang datar, cepat, stabil
Meluncur searah angin
Sesekali berputar arah menentang badai
Raga terbiasa dengan keteraturan semesta
Jiwa senang bergerak searah jarum jam

Apakah bebas terlalu menakutkan?
Apakah keseimbangan adalah kungkungan?
Apakah ‘penjara’ hanyalah cara melindungi diri dari rasa terlalu merdeka?

Jatuh dari tempat tinggi memang sakit
Jatuh hanya karena mengiyakan kemauan mata hati bergeser arah
Jatuh yang menimbulkan luka menganga
Ini bukan luka yang bisa disiram alcohol lalu dibalut agar cepat mengering
Luka ini dalam!
Terlalu dalam hingga sulit tergapai, sukar tertolong

Luka itu kunamakan Gagal
Gagal itu kusebut bodoh
Bodoh bukan karena kurang pengalaman
Bodoh karena tidak awas
Bodoh karena salah menerjemahkan toleransi
Toleransi berujung kompromi

Entah…

Butuh berapa ribu gagal sebelum puas tercapai
Apakah puas sejati adalah hasil dari hidup tanpa gagal?
Bagiku saat ini, gagal masih sesempit itu

Dan sebelum Kesejatian mencapai paripurna,
Biarkan gagalku menjadi Belajar tak Berujung….. (*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harapan di Tempat Salah

Foto : Hutan Pinus Lahendong Tomohon, Sulawesi Utara. (Fransiska Noel) Separuh usia, kau baru memahami betapa besar dampak bagi ...