| Ilustrasi : Pesisir Pantai Skouw, Perbatasan Republik Indonesia - Papua New Guinea (Fransiska Noel) |
“Dan mereka semua
tidak memperoleh apa yang dijanjikan
itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu
kesaksian yang baik. Sebab Allah telah
menyediakan sesuatu yang lebih baik…” (Ibrani 11:39-40)
Tiba-tiba terjaga di pukul 03.30 dinihari nyaris jadi
sarapan setiap hari.
Terbangun dengan jantung berdetak kencang, nafas berat, dan
vertigo kumat.
Kali ini disempurnakan pula dengan asam lambung naik,
membuat kondisi tubuh makin tidak nyaman.
“Perasaan semalam makan, kok bisa maag?”
Pertanyaan yang seharusnya sudah diketahui jawabannya. Ya
kalau bukan karena telat makan, pasti karena stress!
Wajarlah. Bertahun-tahun pola sress terus berulang, dan
pemicu terbesarnya memang rumit.
Perpaduan tuntutan target kantor, dan manajemen
stress diri yang buruk.
Belum lagi dengan diagnosa dokter ahli penyakit dalam yang
menyebut adanya Gerd, atau kondisi dimana asam lambung naik sampai ke dada, akibat
jebolnya katup penghubung di lambung, memicu detak jantung tak beraturan,
kepala berputar dan perasaan tidak nyaman.
Kondisi negatif rutin seperti ini awalnya cukup mengganggu,
tapi lama kelamaan akhirnya mulai bisa berdamai dengannya.
Awalnya sering sekali naikkan doa minta Tuhan beresin
masalah ini. Hingga memasuki tahun kelima berdoa dan menjalankan upaya medis, kondisinya tetap sama.
Apa lagi yang perlu dilakukan jika lima tahun berdoa
kondisinya tak berubah?
Putuskan bangun dari tidur, duduk di atas kasur sambil bersandar di dinding
menjadi ritual subuh yang makin kesini makin disukai.
Dulu mana bisa punya waktu saat teduh yang rutin dan
berkualitas seperti saat ini?
Kalau sudah bangun kesiangan, bersyukur masih ingat untuk
doa dan baca Alkitab. Yang ada malah buru-buru mandi, takut telat masuk kerja.
Dulu sempat mikir keras, “masa mesti sakit dulu baru bisa
punya jam saat teduh yang teratur sih?”
Tapi seiring waktu, banyak hal yang akhirnya mulai bisa
diterima dan disyukuri.
“Kalau dengan adanya penderitaan pada akhirnya ternyata membuat
imanmu makin bertumbuh, yakin tak akan pernah diambil oleh Tuhan. Jadi,
berhentilah berdoa minta penderitaannya dibereskan,” ujar Pdt. Yakub Susabda,
pengkhotbah favorit yang mulai akrab kusebut “Ayah”.
Sepenggal pernyataan Iman yang terus kurenungkan setiap
pagi.
Rasul Paulus pun dalam pelayanannya mengalami masa-masa
frustasi. Hal ini tercermin dalam doanya yang meminta Tuhan mengambil duri
dalam dagingnya.
Doa yang dinaikkannya sampai tiga kali itu berujung penolakkan
dari Tuhan.
“Cukuplah Kasih Karuniaku bagimu, karena justru dalam
kelemahanlah Kuasa-Ku menjadi sempurna.”
Sungguh jawaban di luar dugaan, bukan?
Subuh ini kucoba renungkan kembali bagian-bagian Firman
Tuhan yang entah sudah ratusan kali dipikirkan, direnungkan, coba untuk
diselaraskan dengan kenyataan hidup, bergumul dengan kesesakan yang tak bisa
dihindari.
Sepertinya setiap anak Tuhan akan dibawa pada
kondisi-kondisi begitu krusial, kritis dan rumit, untuk mengecap pengalaman bersama
Tuhan.
Pengalaman Iman yang tak boleh hanya berakhir dalam
pengetahuan kognitif semata.
Kita dibawa beranjak dari kenyamanan hanya sekedar ingin tahu
tentang Allah, masuk pada pengalaman mendalam untuk mengenal dan mengalami
Allah.
Pengalaman yang tak menyenangkan, penuh petualangan,
ketegangan, keputusasaan, kekecewaan, bahkan mungkin kepahitan.
Pengalaman yang akan membawamu pada akhir dari kekuatan
diri, menyerah, dan terkapar.
Kubuka Alkitab dan kembali merenungkan Ibrani 11, yang bisa menjelaskan dengan baik bagaimana akhir hidup semua saksi Iman yang hebat di
dalam Alkitab.
Sebutkan saja semua tokoh-tokoh Iman yang dipakai Tuhan
dalam Alkitab. Abraham? Musa? Rasul-rasul? Sebutkan saja!
“Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang
yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh
melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah
orang asing dan pendatang di bumi ini.”
Apa aku tak salah baca?
Allah yang berjanji itu pada akhirnya tak memberikan satupun
yang Ia janjikan kepada mereka?
Penderitaan, kesesakan, kekurangan, kelaparan,
ketelanjangan, penganiyaan, hingga kematian dengan tragis justru menjadi akhir
dari hidup mereka.
Apakah Allah ‘Ingkar’ Janji? Apakah Ia tak bisa dipercaya?
Bagaimana jadinya dengan akhir Iman mereka?
“Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan
kepada mereka suatu kesaksian yang baik.
Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik.”
Mereka tak menerima satupun dari apa yang sudah dijanjikan
Allah!
Kurapatkan kedua lutut ke dada, pejamkan mata, dan meresapi
dengan serius kenyataan yang cukup bikin dada tambah sesak ini.
Mencoba memposisikan diri dengan benar dalam proses yang
sementara terjadi.
Di saat begitu banyak orang tak putus-putusnya menaikkan doa yang berisi deretan permintaan yang baik kepada Tuhan, fakta Alkitab membeberkan
secara terang-benderang bagaimana seharusnya saya menempatkan diri di hadapan
DIA yang Maha Tinggi.
Tak ada kesembuhan, tak ada jalan keluar dari pergumulan, tapi
Tuhan justru menjadi jawaban doa terbaik.
Pribadi-Nya, Kehadiran-Nya, bukankah itu menjadi cukup bagiku?
“Jika kamu menaruh pengharapan kepada Kristus hanya demi
menikmati hidup di dunia ini, kamu adalah orang paling malang dari semua orang
yang ada di dunia!”
Kalau Tuhan sudah menyediakan yang jauh lebih baik di
kehidupan kekal nanti, bagaimana cara saya bisa menyesuaikan diri dengan
kebenaran ini?
“Tapi kalaupun aku harus hidup di dunia, itu bagiku bekerja
memberi buah!”
Satu jam setengah berlalu dalam kontemplasi menyakitkan. Kudapati
diri belum sepenuhnya memahami misteri ‘bergaul dengan Tuhan’ dalam bentuk aneh
seperti ini.
Tapi, di kedalaman lubuk hati terdalam, ada roh yang begitu
terhibur dan disegarkan. Meski daging itu terkoyak, berontak, dan tak terima!
Di akhir perenungan, sebaris doa sederhana terlontar dari
hati yang terhibur dan terluka dalam waktu bersamaan.
“Tuhan, jika pada akhirnya aku tak akan pernah menerima satu
pun dari apa yang telah Engkau janjikan. Dan jika pada akhirnya, apa yang sudah
ada padaku pun harus Engkau ambil satu per satu, jagalah Imanku tetap teguh dan
tak mengkhianati-Mu. Jagalah setiaku pada-Mu tetap bertahan sampai akhir.
Sampai aku bertemu muka dengan muka dengan-Mu. Hingga segala sesuatu akhirnya
kumengerti, mengapa semua ini harus dilalui. Dan selama proses ini terus
berjalan, biarlah diri-Mu menjadi cukup bagiku.” (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar