“Inginku bertemu langsung
serpihan es yang melapisi tenda di pagi buta, tetapi yang kutemukan lebih dari
dugaan. Berdiri di tepi Ranukumbolo dan menghirup beku embunnya. Ada wangi yang
sulit dijelaskan, ada nafas sesak karena paru-paru diremas dingin, dan ada
tenang luar biasa yang membuatmu enggan beranjak meski tubuh nyaris lumpuh
membeku.”
Bisa dikata ini namanya Jatuh Cinta pada Semeru. Meski
akhirnya kaki gagal mencapai Mahameru, puncak tertinggi Jawa itu, tetapi kisah
yang tertinggal membuatku selalu ingin mengingatnya lagi dan lagi.
Perjalanan mencapai Semeru memang panjang sekali. Pendakian ke
salah satu gunung cantik di Jawa Timur ini merupakan bagian dari trip marathon
setelah sebelumnya saya berkesempatan menjejakkan kaki ke Puncak Gunung Gede
Pangrango Jawa Barat.
Lelah turun dari Gede Pangrango, perjalanan dilanjutkan
menggunakan kereta api selama 16 jam dari Depok menuju Stasiun Kereta Api
Malang.
Bisa dibayangkan apa yang terjadi usai perjalanan 16 jam
itu? Kaki bengkak sehingga sulit mengenakan sepatu khusus untuk mendaki.
Syukurlah saya masih punya waktu semalam untuk istirahat di
basecamp awal pendakian Gunung Semeru, di Desa Ranupani (2.100 mdpl), sambil
berharap keesokan harinya bengkak di kaki sudah mengempis.
Usai mengemas kembali perlengkapan dan logistik tim, saya
tak sabar ingin langsung berada di Desa Ranupani, Desa terakhir yang berada di
kaki gunung Semeru Jawa Timur.
Perjalanan cukup panjang dan harus menggunakan jip, karena
medan menuju Ranupani sangat menanjak dan sulit ditempuh jika menggunakan
mobil biasa.
Saya tiba di Ranupani sore hari, disambut udara dingin
menusuk tulang. Wajar, karena titik awal pendakian ini saja sudah berada di
ketinggian 2.100 mdpl.
Bermalam di tempat ini menjadi penting untuk penyesuaian
tubuh dengan ketinggian, sebelum melanjutkan pendakian yang sebenarnya.
Katanya jika beruntung, saat bangun keesokan paginya kita
bisa menemukan kristal es melapisi semua
tanaman dan rerumputan yang berada di tepi Danau Ranupani.
Dan saya memang kurang beruntung. Paginya udara hanya
menyentuh angka 5 derajat Celsius, sehingga saya hanya puas memandang lapisan
kabut dingin bermandikan semburat kuning cahaya sunrise di atas air Danau
Ranupani.
Tapi tak ada yang lebih menggembirakan daripada melihat kaki
tak lagi bengkak, sehingga sepatu kesayangan bisa digunakan untuk pendakian
pagi ini.
Jelas, tujuan pertama pendakian hari pertama ini adalah
Danau Cantik Ranukumbolo.
Diperlukan waktu 7-8 jam untuk bisa tiba di danau air tawar
yang sangat disakralkan umat Hindu yang ada di kawasan Taman Nasional Bromo
Tengger Semeru ini.
Medan pendakian menuju kawasan basecamp Danau Ranukumbolo
tidaklah terlalu sulit.
Sesekali menanjak, tetapi di beberapa track cukup mendatar
dan menurun sehingga kaki tidak terlalu letih.
Yang membuatku selalu tersenyum di sepanjang jalan adalah
banyaknya bunga liar warna-warni yang bertebaran.
Belum lagi dengan kabut dingin yang tiba-tiba turun, membuat
panjangnya perjalanan tak terlalu melelahkan.
Suasana laiknya negeri dongeng inilah yang membuat Semeru
selalu berhasil mencuri hati para pemburu ketinggian.
Usai melewati empat pos pendakian, mata kemudian bertemu
keajaiban yang dinanti-nantikan.
Memandang dari atas ketinggian indahnya Danau Ranukumbolo,
mata dikejutkan dengan hamparan pepohonan pendek bunga Edelweiss basah yang
bertebaran di sekitar pos 4, tepat di atas bukit terakhir sebelum pendaki turun
menuju kawasan basecamp Danau Ranukumbolo.
Saya memilih istirahat sebentar sambil menikmati indahnya
deretan bunga Edelweiss. Sementara di kejauhan, warna-warni tenda para pendaki
terlihat berdiri di tepi danau.
Usai istirahat sebentar, perjalanan menuruni bukit dimulai. Danau
ada di depan mata dan kaki bergegas ini segera tiba disana.
Setengah jam kemudian, saya pun tiba di danau sakral Ranukumbolo.
Luas, jernih, kesan hijau air akibat pantulan pepohonan di
tepian danau, dingin, berangin, dan yang terpenting tenang.
Ketenangan Ranukumbolo bukan isapan jempol semata.
Ada pantangan untuk menimbulkan keributan selama pendaki
menumpang kemah di tempat ini.
Sejumlah pepohonan yang dilingkari berbagai jenis kain
warna-warni menjadi pemadangan biasa dijumpai para pendaki Semeru saat tiba di
kawasan Ranukumbolo.
Bukan hanya larangan ribut, tapi pendaki pun dilarang mandi
di danau ini.
Ada spot pengambilan air yang sudah ditentukan bagi pendaki
untuk keperluan masak, dan mencuci perlengkapan masak/makan.
Usai mendirikan tenda. Rencanapun disusun.
Menikmati Ranukumbolo itu wajib bagi pendaki Gunung Semeru.
Kesempatan bermalam dan menikmati pagi menjadi waktu yang
paling dinantikan di tempat ini.
Saya sendiri masih dengan kerinduan yang sama. Ingin duduk memandangi
miliaran bintang dan cantiknya sabuk Milky Way di langit Ranukumbolo.
Dan kalau
beruntung, bisa menemukan lapisan kristal salju di atas tenda saat bangun di
pagi hari.
Dingin malam Ranukumbolo tak main-main. Sungguh dingin
sehingga butuh beberapa lapis pakaian sebelum kemudian mengenakan jaket anti angin
dan air.
Bermalam di Ranukumbolo sangat hening. Tak ada teriakan
pendaki, atau musik yang diputar keras-keras. Semua aktivitas pendaki dilakukan
dengan tenang di tenda masing-masing.
Sementara saya, sibuk dengan tripod dan kamera DSLR yang
disetel manual untuk mengabadikan sabuk Milky Way, yang kebetulan malam ini
bersanding dengan warna merah planet Mars yang berada dalam jarak terdekatnya
dengan bumi.
Aktivitas yang cukup sulit karena beberapa kali harus
melepas sarung tangan khusus yang berakibat tangan nyaris mati rasa saat
mencoba mengutak-atik kamera.
Alhasil, saya harus pindah ke dalam tenda yang lebih hangat
supaya tangan tak membeku saat hendak mengambil gambar bintang.
Malam ini hanya ingin menikmati bintang dan makan malam.
Mata harus dipaksa untuk terlelap lebih cepat karena dinginnya malam sulit
untuk ditahan.
Tenda harus segera diutup agar sisa hangat tetap
terperangkap untuk menjaga tubuh tak mati kedinginan.
Lapisan alumunium foil yang dihamparkan di atas tenda
ternyata tak cukup membendung sergapan dingin yang berusaha merangsek masuk.
Tubuh tak kuat menahannya, sehingga malam dilewati dengan
menggigil dan sakit kepala.
Tapi, impian menemukan salju di atas tenda masih membara.
Sehingga cukup membakar semangat yang hampir padam diremukkan bekunya malam.
Pagi yang dinanti pun tiba. Usai meliuk-liuk sedikit dalam
tenda, saya keluar lengkap dengan sarung tangan hitam, siap untuk panen
serpihan salju di atas tenda.
Ah, tapi sayang. Tak ada salju kali ini. Tapi kabut tebal
menyapa pagi.
Seluruh kawasan basecamp ditutupi kabut cukup tebal.
Jangan tanya dinginnya seperti apa, karena jika saja kau
hanya berdiri diam tanpa banyak bergerak setelah keluar tenda, rasanya tubuh
akan membeku tiba-tiba.
Saya memutuskan mendekati bibir danau. Embun tebal menutupi
permukaan Ranukumbolo.
Satu kata saja, “Indah!”
Berdiri di atas ketinggian 2.500 meter lebih dari atas
permukaan laut, mata diperhadapkan dengan lautan embun beku menutupi permukaan
danau.
Tak peduli dengan dingin menusuk tulang. Saya berdiri diam
disana untuk waktu yang cukup lama.
Menghirup bekunya embun Ranukumbolo ternyata lebih indah dari
sekedar mengumpulkan salju di kepalan tangan.
Ada wangi yang sulit dijelaskan. Ada nafas yang sesak karena
paru-paru diremas beku pagi. Dan ada ketenangan luar biasa yang sanggup
membuatmu berdiri disana untuk waktu yang lama tanpa peduli tubuh nyaris lumpuh
membeku.
Ada beban terlepas disana. Ada hening tak bertepi yang
memenuhi pikiranmu. Ada mata terpejam menikmati putih kelabu embun dingin yang
menghempas berulang-ulang alis keningmu.
Ada lelah batin yang kutinggalkan disana.
Sejam disana, cukup membersihkan jiwamu.
Bertemu DIA yang bersemayam dalam bekunya pagi,
menikmati-Nya, berbicara dalam hening hadir-Nya, dipenuhi-Nya, disegarkan-Nya,
diperbaharu-Nya sekali lagi.
Menghirup Beku Embun Ranukumbolo akan tersimpan dalam benak
selamanya.
Karena disanalah kerapuhan terdalammu bertemu dengan
Kelembutan Sejati-Nya yang memulihkanmu selamanya.
Dan ku ingin kembali lagi, menikmatinya lagi dan lagi, saat
nafas yang dihembuskan-Nya di tepi Ranukumbolo nyaris habis, menguap dibakar
panas kerasnya hidup. Membuatku tersadar, ku butuh DIA selalu! (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar