| Ilustrasi : Bulan Terbit Dilihat dari Pos 3 Gunung Gede Pangrango Jawa Barat (Fransiska Noel) |
“Seperti sungai yang mengalir dalamku…tak pernah sedetikpun kan berhenti bagi diriku...ku ingin bersama-Mu slalu…,dan tiba-tiba braaak! Ketenangan surgawiku pagi ini sontak menguap, berubah mencekam saat tersadar nyawa nyaris dirampas sebuah mobil yang tiba-tiba muncul dari arah kanan, menyerempet motorku dan membuatnya oleng ke arah truk yang melaju di sebelah kiri!”
“Mati aku!” pikirku. Beruntung sopir truk sigap dan
membanting setir ke kiri dan melambatkan kendaraannya.
Awalnya kupikir bakal dilindas truk. Mungkin mujizat juga
sehingga sopir truk sigap di saat suasana begitu genting.
“Aku gak jadi mati!”
Lantunan suara merdu Sidney Mohede masih terdengar dari
headset di telingaku.
Lagu yang biasanya selalu mampu menenangkan hati sebagai
teman perjalanan, pagi ini tak berdaya.
Syok, kaget, meski anehnya tak membuatku reaktif seperti aku
yang sebelum-sebelumnya.
Kucoba menguasai diri dalam kondisi masih berada di atas
motor, sementara sopir mobil yang menyerempetku membuka kaca mobilnya lalu
mulai meluapkan kemarahannya.
Siapa sangka, yang mengendarai kendaraan itu ternyata
seorang calon anggota legislatif Kota Manado yang bakal maju dalam Pileg Rabu
besok.
Kubiarkan dia marah-marah. Yang hanya bisa kulakukan adalah
menatapnya dalam diam.
Aneh, biasanya kemarahanku sangat mudah meledak menghadapi
kondisi-kondisi seperti ini. Tapi pagi ini, aaaah, ada apa denganku?
Ucapan “hati-hati neh” dari Mami saat kuberangkat kerja pagi
ini masih terngiang di telinga.
Doa rutin mohon penyertaan Tuhan yang selalu kunaikan
sebelum ke kantor juga kuingat lagi.
“Tuhan, Kau mau aku belajar apa pagi ini?” ucapku dalam hati
saat si sopir mobil masih marah-marah dan mataku masih terus menatapnya.
Kubiarkan mobil itu kembali melaju usai sang sopir meluapkan
seluruh uneg-unegnya dan bukannya minta maaf.
Kukendarai motor dengan perlahan sambil mengambil jalur
lebih ke kiri karena suasana hati yang masih kaget.
Ada perasaan aneh tentang reaksiku yang begitu tenang
menghadapi situasi yang nyaris merenggut nyawa ini.
Seolah ada kekuatan begitu teduh, lembut, dan tenang
menguasaiku saat itu. Yang membuatku diam saat seharusnya marahku meledak.
Inikah seni memahami itu? Terlalu supernatural dan tak
normal bagiku.
Bukan hasil pikiran dan hati yang telah terlatih untuk memahami,
karena jujur itu bukan aku!
Tapi bagaimana bisa begitu mudah dan cepat mempengaruhi
seluruh reaksiku, dan anehnya aku menurutinya.
Oke. Pelajaran yang keren sih pikirku. Tapi Tuhan kalau
bercanda jangan horor kek gini dong! Hahaha.
Overall, ada syukur dan sukacita saat bisa lewati pengalaman
ngeri pagi ini, dan respon yang muncul dari hati yang aku percaya sungguh adalah
buah dari intervensi Ilahi.
Seni Memahami saat Nyawa di Ujung Tanduk, sukses tertanam
dalam benakku pagi ini.
Aku yakin, tak selalu Tuhan berintervensi dengan keputusan
yang dibuat manusia saat dirinya bereaksi menghadapi kondisi-kondisi tertentu
yang mungkin merugikan dirinya.
Tapi pagi ini, aku mau bilang terima kasih karena intervensi
Ilahi seperti ini diresponi dengan rendah hati oleh diri yang keras kepala, arogan, suka
menilai, suka menghakimi, dan tak pernah bisa rendah hati ini.
“Tuhan, berikut tak perlu intervensi lagi ya. Biarkan aku
belajar melakukannya sendiri dengan alami, sebagai buah dari apa yang telah KAU
ajarkan padaku pagi ini.”
Bukan tak jadi mati yang kusyukuri hari ini. Tapi pelajaran
yang DIA tanamkan sebelum mati itu benar-benar terjadi, nanti! (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar